Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-71

Om Swastyastu
Sampurasun,
Teriring salam hormat buat seluruh alumni dan kader kmhdi jawa barat serta bli/mbok sekalian. Walaupun sederhana namun tetap bermakna, ungkapan yang bisa dikatakan dipagi hari tadi (17 Agustus 2016). Telah dilaksanakannya Upacara Bendera dan Berbagai Lomba di Jl. Otten No. 15. Kegiatan ini diselenggarakan oleh PD KMHDI Jawa Barat bersama dengan Asrama Mahasiswa Bali Vyata Tirta Gangga.
Dirgahayu RI ke-71, semoga tetap Bhinneka, semoga selalu Jaya.


Om Shanti Shanti Shanti Om
Satyam Eva Jayate!












FA KMHDI Jawa Barat Di Talkshow Ramadhan Interaktif

Om Swastyastu,
Bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi, 29 Juni 2016. Kami menghadiri acara Talkshow Ramadahan tentang "Toleransi Umat Beragama " di Pesantren Al-Musyahadah, Kota Cimahi. Adapun Bli Nyoman Sukadana sebagai Ketua FA KMHDI Jabar menjadi salah satu narasumber.

Dari Talkshow ini diharapkan toleransi antar umat beragama bisa terus terjalin pada lingkungan diamna kita berada. Jangan biarkan benih benih kebencian itu muncul sedikitpun di bumi Indonesia ini. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda beda namun tetap satu juga.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Satyam Eva Jayate!!

Perayaan Tahun Baru Imlek Dalam Kebudayaan Masyarakat Tionghoa Indonesia

Om Swastyastu,
Pekenankan saya dalam bentuk tulisan ini  untuk  sedikit memaparkan hasil kegiatan kunjungan yang telah saya dan beberapa rekan KMHDI  lakukan hari Minggu yang lalu.

Tepatnya pada tanggal 7 Februari 2015, saya bersama 7 rekan KMHDI (bli giri, bli gung dalem, kak chit, kak fajar, kak putra, mita dan kak putri lawi) ikut serta dalam kegiatan pengenalan tradisi perayaan tahun baru imlek dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa Indonesia. Kegiatan ini sendiri diprakarsai oleh rekan - rekan "Jaringan Kerja Antarumat Beragama (JAKATARUB)".

Malam itu setelah kami berkumpul di sekre kmhdi pukul 18.00 WIB dengan kondisi hujan, kami menuju klenteng gede di jl. Klenteng Bandung. Disana kami disambut baik oleh rekan rekan yang lain. Diawali dengan acara perkenalan dari setiap lembaga dan setelah itu selesai  kami langsung memulai tour yang diawali dengan tour menuju Vihara Tanda Bhakti. Selama perjalanan menuju vihara tersebut, ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan rekan rekan dari lembaga lain kepada kami, yang intinya mereka masih belum mengerti perbedaan antara agama Hindu dan Buddha. Salah satu pertanyaannya seperti "Kalian mahasiswa Hindu? Berarti kalian ikut merayakan imlek ya? Hindu dan Buddha itu sama kan?" Mendengar kalimat tersebut  rasanya masih banyak rekan rekan di luar sana yang sangat awam terhadap agama kita.







Setibanya kami di Vihara Tanda Bhakti, kami diajak untuk lebih mengenal sejarah dari perayaan imlek itu sendiri dengan jalan diskusi dengan seseorang yang memahami itu. Selain itu kami juga diberi kesempatan untuk melakukan pemujaan seperti halnya yg biasa mereka lakukan. Dalam benak saya, ini merupakan salah satu pengalaman baru  yang luar biasa dan patut untuk diingat.

Lanjut setelah itu, kami mengunjungi Vihara Dharma Ramsi dan dijelaskan beberapa hal lagi mengenai perayaan tahun baru imlek dan beberapa bagian vihara yang ada, disana juga kami sempat mencicipi bubur yang cukup menahan rasa lapar yang begitu membara, bagaimana tidak, sepanjang perjalanan menuju vihara kedua ini terdapat begitu banyak tempat makan dengan menu babi yang terlihat menggoda.

Kunjungan ketiga yaitu Klenteng Kong Miao. Kami diperkenalkan dengan mereka yang menganut ajaran Konfusianisme atau lebih dikenal Kong Hu Cu, suasa malam yang dingin terasa sedikit panas saat berada disini, hal tersebut dikarenakan beberapa pertanyaan yang dilontarkan teman teman lain kepada pihak klenteng membuat statement yang cukup tegang sehingga atmosphere panaas menyelimuti ruangan ini.

Salah satu pertanyaan nya seperti "kita baru saja jalan beberapa meter dari vihara pertama tapi kenapa ya kok bisa sudah ada vihara yang lain lagi? Dan ternyata banyak." Lalu pihak klenteng awalnya menjawab begini "Saya kembalikan pertanyaannya, kenapa umat muslim mempunyai tempat ibadah yang hanya berjarak setiap 5 rumah? tapi itu tidak pernah kami atau yang lain permasalahkan." Dan masih ada juga beberapa pertanyaan lain yg dilontarkan yang saya kira konteksnya agak keluar dari topik perayaan imlek itu sendiri. Namun terlepas dari hal tersebut, sedikit tidaknya kami juga dapat pengetahuan baru mengenai hubungan perayaan imlek dengan Barong Shai dan juga filosofi warna yang mereka gunakan.

Dan tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Vihara Sinar Mulia yang merupakan tempat beribadah dari ajaran Taoisme. Mereka belum diakui di Indonesia akan tetapi mereka tetap dapat bertahan dan sangat bangga ketika mereka dapat memperkenalkan tentang ajaran dan kebudayaannya kepada kami yang hadir saat itu. Disana juga mereka mengharapkan setelah ini mereka dapat mengenal mengenai yang lain termasuk mengenal tentang agama Hindu beserta budayanya di Indonesia.




Kunjungan ke vihara tersebut menjadi penutup karyawisata kami malam itu. Sebenarnya masih ada satu lagi perayaan yang menandai tahun baru imlek itu sendiri yaitu perayaan "menghidupkan lilin-lilin". Namun karena sesuatu dan lain hal, kami tidak sempat ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Adapun pelajaran yang bisa saya petik setelah mengikuti kegiatan ini beberapa diantaranya adalah saya lebih memahami perbedaan antara agama Buddha, Kong Hu Cu dan Tao. Perbedaan tersebut terlihat dari Tuhan/Dewa yg disembahnya, cara beribadah, nabi/orang suci yang dihormati dan kitab sucinya. Saya baru memahami bahwa wihara-wihara agama Buddha yang kami kunjungi adalah aliran Mahayana, dimana aliran tersebut adalah agama Buddha yang sudah menyatu dengan Budaya Tiongkok sama seperti di agama Hindu kita mengenal adanya Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Hindu Jawa, dan lainnya yang sudah menyatu dengan budaya setempat. Selain itu ternyata agama Kong Hu Cu dan Tao awalnya berawal dari satu sumber. Mereka terpisah saat terjadi perbedaan pandangan para pendirinya tentang fokus hubungan yang lebih penting di agamanya. Agama Kong Hu Cu lebih menekankan pada hubungan horizontal (Hubungan antara sesama manusia), sedangkan Tao lebih menekankan pada hubungan vertikal (Hubungan Manusia dan Tuhan). Persamaan yang saya pelajari yaitu ketiga agama tersebut mempunyai corak agama timur yang bercirikan penuh toleransi, kasih sayang, menekankan pada etika hidup sehari-hari dan menyatu dengan budaya setempat.

Satu kesimpulan penting yang saya dapat setelah mengikuti kegiatan ini adalah "Intinya semua agama  itu memiliki tujuan yang sama, ini hanya mengenai keyakinan dan cara pandang  setiap individunya saja. Semua itu akan terlihat indah jika cara pandang kita benar".

Satyam eva jayate!

Ni Putu Nindya Putri

Diskusi Tentang Hindu di Katekisasi GKI Kebon Jati

Tanggal 24 Januari 2016 lalu, minggu malam , Odot (Gede Teguh) mendapatkan sebuah permohonan dari Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama). Permohonan tersebut disampaikan secara personal oleh Bang Risdo, sekretaris Jakatarub. Isi permohonan tersebut adalah untuk meminta kesediaan mahasiswa Hindu mengisi materi diskusi tentang Hindu kepada calon jemaat di GKI Kebon Jati (GKI-KJ) untuk hari Jumat tanggal 5 Februari 2016. Ceritanya sejak tahun lalu GKI-KJ sudah memasukkan isu tentang toleransi dan keberagaman untuk pembinaan jemaat (istilahnya 'katekisasi'). Tahun lalu buat jemaat dewasa sudah, tahun ini buat jemaat mudanya. Kesempatan yang baik bagi kita untuk mencoba mengaplikasikan salah satu jati diri KMHDI (religius) dan berupaya membangkitkan semangat toleransi antar umat beragama.

Singkat cerita terdapat 5 (lima) orang yang bersedia, antara lain Odot, Bli Giri, Bli Gung Dalem, Bli Gusti, dan saya. Persiapan materi pun kami siapkan. Hari kamis, tepatnya di kosan Bli Gusti, kami gunakan untuk menerka-nerka pertanyaan apa yang akan pemuda non-Hindu tanyakan terkait Hindu. Jumat siangnya kami susun semua materi mulai dari sejarah, tujuan, jalan hidup, hingga rumor-rumor yang berkembang terkait Hindu.






Tepat pukul 18.40 WIB kami memulai pematerian. Peserta yang ikut katekisasi saat itu berjumlah 8 orang. Didampingi oleh Bang Risdo dan Pendeta dari GKI-KJ, kami awali kegiatan tersebut dengan sedikit canggung. Namun tidak berapa lama kami bisa mengendalikan suasana dengan baik dan berdiskusi hingga akhir kegiatan. Kami bersyukur bahwa kegiatan ini bisa memberikan pengalaman baru tentang Hindu bagi umat beragama lain khususnya jemaat GKI-KJ. Hari tersebut kami akhiri dengan mengevaluasi kegiatan di Cafe Madtari dekat Taman Flexi. Dengan menyantap bakso dan pisang dengan keju segunung kami mulai evaluasi hingga dialog-dialog imajiner nan progresif hingga larut malam.

Satyam Eva Jayate!

Chit Jna' Amary K.

Mengenal Zaman Kali Yuga

Mengenal Zaman Kali Yuga - Kali-Yuga adalah salah satu dari empat (catur) Yuga yang kondisi kehidupan manusianya paling buruk dan paling jelek akibat kegelapan spiritual. Keempat Yuga dimaksud adalah :

1. Satya-Yuga
2. Treta-Yuga
3. Dvapara-Yuga, dan
4. Kali-Yuga.

Adapun ciri-ciri setiap Yuga dapat dilihat dari prinsip-prinsip Dharma yang semakim merosot, suasana kehidupan manusia yang semakim jelek dan kegiatan penduduk dunia yang semakim korup. Sementara itu, prinsip-prinsip Adharma semakim berkembang subur dan akhirnya merajalela di masyarakat manusia seraya melenyapkan prinsip-prinsip Dharma.

Ciri-ciri setiap Yuga dapat diringkas sebagai berikut :





Menurut Bhagavata Purana 12.3.27-30, segala kegiatan di alam material ini terjadi karena interaksi Tri Guna, tiga sifat alam material yaitu: sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan). Ia (Tri-Guna) menyelimuti segala makhluk di alam material. Dan ketiga unsurnya itu berinteraksi karena dipicu oleh sang waktu, tenaga pengendali tak berwujud Sri Krishna. Yuga sebagai pencerminan ketiga sifat alam material tersebut dapat diringkas sebagai berikut.



Dari segi kenyamanan hidup, keempat Yuga tersebut di ibaratkan sebagai musim yang berbeda-beda. Dari segi kualitas kehidupan, keempat Yuga tersebut di ibaratkan sebagai logam yang berbeda-beda. Dari segi spiritual, keempat Yuga tersebut di-ibratkan sebagai kegiatan sang manusia yang berbeda-beda. Sebutan Yuga yang berbeda-beda itu dapat diringkas sebagai berikut.

Berdasarkan penelitian seksama terhadap Jyotir-Veda (ilmu Astronomi Veda), para ahli (sarjana tradisional Veda) menyatakan bahwa Kali-Yuga mulai pada tanggal 18 Pebruari 3102 SM ketika Raja Pariksit naik tahta Kerajaan Hastinapura. Dikatakan bahwa pada hari itu ke 7 (tujuh) planet termasuk Bulan dan Matahari tidak dapat dilihat dari Bumi, sebab mereka berjejer lurus satu arah dibalik Bumi. Sementara itu, planet Rahu yang tidak bisa dilihat mata telanjang, tepat berada diatas Bumi di langit yang gelap gulita. Oleh karena tahun Masehi telah berlangsung selama 2006 tahun, maka pernyataan bahwa Kali-Yuga mulai sekitar 5.100 tahun yang lalu diakui sebagai kebenaran oleh para penganut ajaran Veda.


Diceritakan bahwa Raja Pariksit bertemu kepribadian Kali-Yuga dalam wujud seorang sudra berkulit hitam dan berpakaian seperti Raja di tepi sungai Saraswati ketika beliau memeriksa wilayah Kerajaannya. Si sudra  sedang  menyiksa sapi jantan (perlambang dharma) dan sapi betina (perlambang Bumi) dengan gada. Karena mohon maaf atas perbuatannya yang biadab, Raja Pariksit tidak membunuh si sudra. Beliau mengusir si sudra keluar wilayah Kerajaannya dan memperkenankan dia tinggal di 4 (empat) tempat yaitu :

1. Rumah Potong Hewan
2. Tempat pelacuran
3. Tempat perjudian, dan
4. Tempat dimana emas disimpan.

Veda menyatakan bahwa Bumi diliputi Kali-Yuga setelah Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa , Krishna kembali ke tempat tinggalnya Goloka-dhama di alam rohani. Dikatakan bahwa begitu Kali-Yuga memasuki Bumi, maka pape yad ramate janah, manusia  mulai bersuka-ria dalam beraneka-macam kegiatan berdosa (Bhagavata Purana 12.2.29). Tetapi selama Sri Krishna masih menginjakkan kaki-Nya di Bumi, tavat  kalir vai prthivim parakrantun na casakat, selama itu pula Kali-Yuga tidak berdaya menguasai Bumi (Bhagavata Purana 12.2.30).

Bhagavata Purana  12.2.31 menyatakan bahwa Kali-Yuga berlangsung selama  dvadasabda satatmakah, dua abad deva, atau 1.200 tahun deva. Menurut tahun manusia, Kali-Yuga berlangsung selama 1.200 x 360 =  432.000  tahun (1 hari deva = 1 tahun manusia). Dari jumlah ini, 5.100 tahun telah berlalu, sehingga Kali-Yuga punya jangka waktu berlangsung yang masih lama yaitu 426.900 tahun manusia.

Dikatakan lebih lanjut oleh Veda bahwa Kali-Yuga mulai mencengkram penduduk Bumi dengan kekuatannya penuh ketika kumpulan bintang (planet) Sapta-Rsi bergerak dari garis edar Bulan yang disebut Magha ke garis edar Bulan yang disebut Purvasadha yaitu ketika Raja Nanda dan dinastinya mulai memerintah India (Bhagavata Purana 12.2.32). Itu terjadi sekitar 1977 tahun SM (Sebelum Masehi).
Kali-Yuga sebagai jaman kemerosotan akhlak dan moral ditunjukkan oleh pernyataan-pernyataan Veda berikut :
Veda menyatakan,"Sa kalir tamasa smrtah, Kali-Yuga disebut jaman tamas, kegelapan/kebodohan"(Bhagavata Purana 12.3.30). Tamas (kegelapan/kebodohan) adalah salah satu unsur Tri-Guna, tiga sifat alam material yaitu sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan).
Mengenai sifat alam tamas ini, Veda menjelaskan sebagai berikut, "Sifat alam tamas ini menyebabkan manusia mengkhayal, sehingga manusia menjadi berpikir tidak waras, malas dibidadang kerohanian dan banyak tidur". Selanjutnya dikatakan,"Adharmam dharman iti ya manyate tamasavrta, diliputi sifat tamas, manusia menganggap yang benar adalah salah dan yang salah adalah benar, sehingga sarvarthan viparitams ca, segala kegiatannya menuju kearah sesat" (Bhagavad Gita 18.32).

Penjelasan Veda lebih lanjut adalah sebagai berikut :

1. Dalam masa Kali-Yuga, manusia cendrung semakim rakus, berprilaku jahat (korup) dan tidak mengenal belas-kasihan. Mereka bertengkar satu dengan yang lain tanpa alasan benar. Mereka bernasib malang, diliputi beraneka-macam keinginan material dan sudra-dasottarah prajah, mayoritas tergolong sudra dan manusia tidak beradab (Bhagavata Purana 12.3.25).

2. Kegiatan tipu-menipu dan berbohong, malas dibidang kerohanian, banyak tidur dan tindak kekerasan, kecemasan, kesedihan, kebingungan, ketakutan dan kemiskinan merajalela (Bhagavata Purana 12.3.30).

3. Karena fakta-fakta tersebut, maka Kali-Yuga sering disebut sebagai jaman kemerosotan akhlak dan moral, jaman perselisihan dan pertengkaran, jaman kepalsuan, jaman edan, jaman kekalutan, jaman kemunafikan, jaman penderitaan dan kesengsaraan.

Maha  Rsi Sukadeva Goshwami menjelaskan 24 ciri Kali-Yuga kepada Raja Pariksit, yaitu :

1. Dharma merosot dan Adharma berkembang subur.
2. Kualitas, moral dan hidup manusia merosot.
3. Manusia bertabiat Asurik (jahat).
4. Manusia munafik dan curang.
5. Raja, kepala da pejabat negara bermoral buruk dan rendah.
6. Kekayaan material dan keniknatan indriyawi menjadi tujuan hidup.
7. Hukum dan keadilan ditentukan oleh kekuasaan.
8. Perkawinan berlangsung karena daya tarik material dan sex berdasarkan prinsip suka sama suka.
9. Segala urusan dan hubungan bisnis berlandaskan tipu-muslihat.
10. Para brahmana sibuk dengan urusan mengenyangkan perut dan memuaskan kemaluan.
11. Aturan hidup varna-asrama dharma dicampakkan.
12. Manusia selalu berpikir keliru.
13. Kekuasaan dicapai melalui kekuatan.
14. Rakyat menderita karena bencana alam, kelaparan, beban pajak, penyakit dan kecemasan.
15. Wanita hidup bebas dan tidak suci.
16. Veda dimengerti dengan pola pikir atheistik.
17. Kota-kota dikuasai para bandit.
18. Sapi dibunuh untuk makanan.
19. Majikan dan pelayan saling tidak setia.
20. Laki-laki dikendalikan wanita.
21. Orang-orang sudra menipu melalui praktek kerohanian.
22. Manusia menjadi amat individualistik.
23. Manusia dan alam terkena polusi, dan
24. Manusia melalaikan Tuhan karena berwatak atheistik.

Demikianlah artikel/tulisan mengenai " Mengenal Zaman Kali Yuga " ini , semoga bisa bermanfaat serta menambah wawasan dari teman-teman sekalian.

#Satyam Eva Jayate

Referensi : http://kere.000space.com/

Hari Valentine Menurut Perspektif Hindu

Hari Valentine Menurut Perspektif Hindu - Artikel | Globalisasi telah menimbulkan semakin tingginya intensitas pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh masyarakat tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya keresahan psikologis dan krisis identitas di kalangan masyarakat (Ardika, 2005:18). Terlepas dari dampak positif dan negatif globalisasi tersebut, tampak beragam respon masyarakat Hindu, Bali Kususnya. Di satu pihak mereka optimis menghadapi tantangan globalisasi tersebut, di pihak yang lain ada yang sangat pesimis dan khawatir terhadap memudarnya berbagai nilai budaya Bali. Tapi Agama Hindu dan budaya Bali tetap mampu menghadapi budaya global, namun demikian kekhawatiran sebagian masyarakat tentang dampak negatif globalisasi perlu diusahakan jalan untuk mengatasi dan mungkin mencegahnya.


Hal tersebut diatas tidak terlepas dari ajaran Weda, terutama Manawa Dharmasastra sebagai kitab Hukum Hindu yang memberikan petunjuk yang jelas bagaimana kita menghadapi dan mempraktikan dharma dalam kehidupan sehari-hari sesuai tempat dimana kita berada dan sesuai perkembangan jaman. Dalam Manawa Dharmasastra VII.10 disebutkan sebagai berikut:

KARYAM SOVEKSO SAKTIMCA, DESA-KALA-CA TATVATAH,
KURUTE DHARMASSDDHIYARTHAM, VISWARUPAM PUNAH-PUNAH.

Artinya :
Setelah mempertimbangkan sepenuhnya maksud, kekuatan, dan tempat serta waktu , untuk mencapai keadilan ia menjadikan dirinya bermacam wujud, untuk mencapai tujuan keadilan yang sempurna.

Sloka di atas menegaskan bahwa didalam mempraktikan aturan dan ajaran Dharma hendaknya dilaksanakan berdasarkan: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (wilayah), Kala (waktu, perkembangan zaman), Tatva (sastra dan keadaan), untuk menyukseskan tujuan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan sebuah jawaban mengapa Hindu Nusantara berbeda dengan Hindu India, dan mengapa pula ajaran Hindu dalam pratiknya selalu menyesuaikan dengan Perkembangan zaman dan sesuai wilayah dimana penganutnya berada. Berdasarkan petunjuk Weda Smerti (Dharmasastra) di atas, mari kita kaji " Hari Valentine " yang biasa dilaksanakan setiap 14 Februari ini lebih dalam.


A. Sejarah Hari Valentine

Asosiasi sebagian orang, menganggap bahwa pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

B. Menyikapi Hari Valentine dari sudut Pandang Hindu

Samàno mantraá samitiá samàni
samànam manaá saha cittam eûàm,
samanam mantram abhi mantarey vah,
samanena vo havisa juhomi.

Rgveda X.191.3.
Wahai umat manusia! Pikirkanlah bersama. Bermusyawarahlah  bersama.  Satukanlah  hati, dan pikiranmu dengan yang lain.Aku anugrahkan pikiran  yang  sama, dan  fasilitas  yang sama pula untuk kerukunan hidupmu


Samànì va àkutiá samànà hådayàni vaá,
samànam astu vo mano yathà vaá susahàsati.

Rgveda X.191.4.
Wahai  umat   manusia!   Milikilah  perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat  mewujudkan  kerukunan dan kesatuan

Berdasarkan kutipan Rg Weda di atas sudah sepantasnya kita mempertimbangkan segala sesuatu yang berkaitan dalam kehidupan, baik kehidupan sehari-hari maupun di hari-hari raya serta hari spesial yang mengglobal seperti hari Valentine.

Dari berita-berita yang beredar di internet bahwa " Kota-kota besar di Indonesia pada moment Valentine tahun 2009, penjualan kondom malam Valentine Day terdongkrak tajam dibanding hari biasa ". Beberapa di antaranya adalah apotek-apotek yang mengaku bahwa sedikitnya 20 kotak kondom berisi 3 buah merek apapun ludes terjual khusus di malam Valentine Day. Dan ada beberapa apotek yang menegaskan bahwa dalam 24 jam sudah menjual sedikitnya 6 kotak kondom berisi 24 merek dan isi 13 kotak yang dibeli oleh pemuda remaja setiap mendekati pertengahan Februari. Umumnya, pembeli adalah pria berusia 20 tahun’.
Dari kutipan berita diatas dapat disimpulkan bahwa hari Valentine dijadikan ajang SEKS BEBAS , "melakukan seks diluar nikah" hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Sanatana Dharma atau lebih dikenal dengan nama Hindu.

Setiap orang dari kita tahu bahwa seks adalah merupakan kebutuhan biologis manusia. Bila hubungan seks bebas dikatakan tidak baik, lalu seperti apakah hubungan seks yang baik itu?. Kesucian dalam berhubungan seks, banyak diatur dalam Manawa Dharmasastra, Parasara Dharmasastra. Menurut pandangan Agama Hindu, hubungan seks itu dianggap sakral dan ada aturan mainnya adalah sebagai berikut :


1. Hubungan seks dalam Hindu tidak semata-mata " for fun " tetapi yang lebih utama adalah untuk mendapat keturunan yang disebut sebagai " dharma sampati " . Dengan demikian seks di luar nikah, menurut Hindu adalah dosa, termasuk " paradara " dalam trikaya parisuda (kayika).

2. Hubungan seks antara Suami istri agar dilakukan secara sakral :
 - Membersihkan badan/ mandi terlebih dahulu
 - Sembahyang mohon restu Dewa-Dewi Smara Ratih

    Hubungan seks jangan dilakukan:
 - Ketika sedang marah, mabuk, tidak sadar, sedih, takut, terlalu senang.
 - Ketika wanita sedang haid

    Waktu yang tidak tepat: siang kangin (fajar), bajeg surya (tengah hari), sandyakala (menjelang matahari terbenam), purnama, tilem, rerainan (hari raya), odalan, sedang melaksanakan upacara panca yadnya.
jangan meniru “gaya binatang”, yang disebut “alangkahi akasa” (melangkahi angkasa)
dalam berhubungan seks selalu berbentuk “lingga-yoni”.
Kalau senang hubungan seks diiringi musik, pilih yang slow/ tenang, jangan lagu dangdut atau yang ribut/ underground atau house-music, apalagi gaya tripping. Makanya di Bali dahulu ada gambelan “smara pegulingan” (artinya: asmara di tempat tidur) adalah jenis gambelan khas yang di tabuh di Puri-Puri di saat Raja sedang berintim ria dengan Permaisuri.

3. Bila hubungan seks dilaksanakan dengan patut sesuai swadharma kama sutra, maka anak yang lahir mudah-mudahan berbudi pekerti yang baik, menuruti nasihat orang tua, rajin sembahyang, pintar, sehat, pandai bergaul dan hidupnya sukses. Tetapi bila hubungan seks menyimpang, maka anak yang lahir disebut anak “dia-diu” yakni: bandel, menyakiti hati ortu, bodoh, jahat, banyak musuh, sulit hidupnya, sakit-sakitan.

C. Larangan Seks Bebas

Sex bebas dan " kumpul kebo " dalam Agama Hindu dilarang dan termasuk perbuatan adharma atau perbuatan dosa. Dalam Manawa Dharmasastra III.63 disebutkan :

Kuwiwahaih kriya lopair, wedanadhyayanena ca,
kulanya kulam tamyanti, brahmanati kramena ca

Dengan berhubungan seks secara rendah diluar cara-cara perkawinan (brahmana wiwaha, prajapati wiwaha dan daiwa wiwaha), dengan mengabaikan upacara pawiwahan, dengan mengabaikan weda, dengan tingkah laku hina, tidak memperhatikan nasihat Sulinggih maka keluarga-keluarga besar, kaya dan berpengaruh akan hancur berantakan.

Parasara Dharmasastra X.1:

Catur varnamsya sarva trahiyam prokta tu niskrtih,
agamyagamate ca iva suddhau candrayanam caret

Aku (Bhagvan,Tuhan) telah menguraikan tentang upacara penebusan dosa bagi keempat golongan sosial; seorang laki-laki setelah menggauli seorang wanita yang dilarang untuknya harus melakukan penebusan dosa candrayanam.

Parasara Dharmasastra X.30 :

Jarena janayed garbhe tyakte mrte patau,
tam tyajed apare rastre patitam papa karinim.

Wanita yang memperoleh kehamilan dengan kekasih gelapnya (tidak melalui upacara pawiwahan), atau setelah ditinggal suaminya atau selama ketidakhadiran suaminya di negeri jauh, harus diusir ke sebuah kerajaan asing (keluar wilayah).

Selain itu dalam Sarasamuscaya yang menguraikan tentang Trikaya Parisudha, disebutkan salah satu dosa dari Kayika (perbuatan) adalah " Paradara " atau dalam bahasa sekarang “berzina” sebagaimana tertulis dalam pasal 153 :

Paradara na gantavyah sarvavarnesu karhicit,
na hidrcamanayusyam yathanyastrinisevanam.

Menggoda, memperkosa, menggauli wanita dengan usaha curang (tidak melalui pawiwahan) jangan dilakukan karena akan menyebabkan dosa dan berumur pendek.

Dalam Lontar Dharma Kauripan disebutkan bahwa anak yang lahir diluar perkawinan adalah anak “dia-diu”, anak yang cuntaka, akan mengalami hidup yang susah. Hubungan seks sebelum pawiwahan dikatakan sebagai dosa yang disebut “kama kaperagan”.

Syarat mutlak yang tak bisa ditawar adalah, seks harus dilakukan dengan cara yang benar, dengan sarana yang suci dan dengan semangat welas-asih yang tinggi. Atau dalam manifesto yang sederhana: Pengalaman spiritual yang suci, dari seks hanya bisa diraih dari hubungan seks yang sah, yaitu hubungan suami-istri. Dalam bahasa ilmiah, pengalaman spiritual itu bisa dianalogikan—tidak disamakan—dengan kepuasan psikologis puncak, kedamaian psikologis yang tinggi, dan keseimbangan jiwa. Hubungan seks secara jahat, atau hubungan seks pra-nikah, atau hubungan selingkuh, apalagi hubungan seks menyimpang, tak akan bisa menghadirkan pengalaman spiritual yang suci dan agung, dan jika dikaitkan dengan konsep keyakinan Hindu, hubungan seks yang tidak sah akan membawa karma negatif bagi jiwa kita.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan beberapa hal mengenai " Hari Valentine " menurut pandangan Hindu. Secara kontekstual valentine tidak bertentangan dengan Hindu, namun jika kita melihat dari fakta yang ada, bahwa hari valentine dijadikan ajang seks bebas, maka sangat bertentangan dengan ajaran veda. Jika anda tidak suka, syukuri hari tersebut sebagai hari kasih sayang. Jika anda suka, rayakan apa adanya jangan sampai dijadikan ajang seks bebas. Pada praktiknya tidak menutup kemungkinan ada saja beberapa pasangan yang memiliki keinginan atau hasrat untuk merayakan valentine dengan seks bebas, ada beberapa saran dan kutipan yang perlu kita semua renungkan sebelum akhirnya terperosok lebih dalam ke arah seks bebas.

Saran buat lelaki : Anda sebagai lelaki sudah sepatutnya menghargai dan menghormati perempuan.
Renungkan sloka Manawa dharmasastra dan praktikan :

Dimana perempuan dihormati disana para dewa merasa senang, akan tetapi dimana perempuan tidak dihormati disana tidak ada upacara suci yang berpahala. (Manawa Dharmasastra, III:56)

Dimana perempuan hidup sedih, keluarga itu akan cepat mengalami kehancuran, sebaliknya, dimana perempuan tidak hidup menderita, keluarga itu akan hidup bahagia. (Manawa Dharmasastra, III: 57)
pada hari raya memberinya hadiah perhiasan, pakaian, dan makanan.(Manawa Dharmasastra, II:59)

Saran buat perempuan : wanita yang berhubungan seks diluar nikah maka ia termasuk orang cuntaka (tidak suci), sehingga anda dilarang memasuki tempat-temapt suci, seperti pura. Jika anda melanggar itu tanggung jawab sendiri dihadapan Hukum Karma.

Canakya Niti Sastra XIV.1


Atmaparadha-vrksasya,Phalanyetani dehinam.
Darydrya-roga-duhkhani,Bandhanavyasanani ca.

Dari pohon dosa diri sendiri, orang mendapatkan buah berupa kemiskinan, penyakit, kedukaan, ikatan, dan kebiasaan buruk.

Seorang wanita biasanya susah menghadapi dilema cinta, apalagi kekasihnya mengancam bahwa jika tidak melakukan hubungan seks dikatakan bahwa seorang perempuan tidak cinta , tidak sayang, dll. Itu hanya “PEMBENARAN” bukan “KEBENARAN”.
Untuk menghadapi dilema seperti itu kita lihat dalam kitab Weda Smerti
Canakya Niti sastra III.2 :

sambhramah snehamahkhyati

Cinta kasih terlihat dari rasa hormat dan kelembutan.

Jadi lelaki yang mengatakan pembenaran seperti itu hanyalah "Cinta karena Nafsu" bukan "Kasih Sayang". Agar tidak terjebak oleh apa yang disebut "Cinta Buta dan Cinta Nafsu", renungkan sloka dibawah ini :
Canakya Nitisastra XIII.6


Yasya sneho bhayam tasya, Sneho duhkhasya bhajanam.
Sneho mulani duhkhani, Tani tyaktva vaset sukham

Dimana ada cinta disana ada ketakutan, cinta adalah tempat bagi kedukaan, dan cinta juga yang merupakan permulaan dari segala kedukaan. Oleh karena itu , tinggalkan segala kecintaan itu dan mantaplah dalam kesukaan.

" Selain seorang ISTRI yang sah semua wanita adalah IBU. Selain seorang SUAMI yang sah semua laki-laki adalah AYAH "

Referensi : http://radheyasuta.blogspot.com/2012/02/valentine-dari-perspektif-hindu.html

Konsep Penciptaan Alam Semesta Menurut Weda

Konsep Penciptaan Alam Semesta Menurut Weda - Ada berbagai versi mengenai teori penciptaan alam semesta yang telah diajarkan sampai saat ini. Mulai dari teori dentuman besar (Big bang), Matahari ganda dan lain sebagainya baik yang memang murni berdasarkan analisa ilmu pengetahuan ataupun untuk kepentingan pembenaran kitab suci tertentu.


Menurut penulis yang memiliki nama besar dari kalangan Muslim, dengan nama samarannya Harun Yahya. Teori penciptaan menurut Al-Qur’an sangat sesuai dengan teori penciptaan dentuman besar (big bang). Menurut beliau Alam semesta dimulai dari satu titik energi-materi yang akhirnya pecah dan terbentuk berbagai susunan planet dengan tatasuryanya. Al-Qur’an dan Injil menyebutkan bahwasanya alam semesta beserta isinya ini diciptakan oleh Allah hanya dalam waktu 1 minggu (7 Hari). Teori ini juga menjelaskan kenapa alam semesta ini mengembang dan jarak antara tatasurya semakin menjauh. Beberapa tafsir Al-Qur’an dan Harun Yahya sendiri menyatakan di seluruh alam semesta ini, hanya bumilah yang memiliki kehidupan.

Bagaimana menurut Hindu? Apakah sama dengan teori-teori agama abrahamik? Dan dapatkah dijelaskan secara ilmiah?

Secara global menurut Veda alam semesta terdiri dari dua bagian utama, yaitu 2/3 alam rohani dan 1/3-nya alam material. Alam rohani sering disebut dengan istilah alam Moksa dimana kondisinya adalah sat cit ananda (kekal, penuh dengan ilmu pengetahuan dan penuh dengan kebahagiaan). Di alam moksa terdapat jutaan planet yang ditempati oleh roh-roh yang telah mencapai pembebasan dan sesuai dengan rasa yang dimiliki oleh roh bersangkutan.

Sebagai contohnya, seorang pemuja Krishna akan mencapai planet Vaikunta, Pemuja Narasimha akan hidup bersama Narasimha, pemuja Narayana akan hidup bersama Narayana di planet rohani yang masing-masing terpisah. Sedangkan di alam material tersusun atas jutaan alam semesta. Dimana dalam satu alam semesta terdiri dari jutaan galaksi. Kita sendiri menempati salah satu alam semesta dalam galaksi Bimasakti. Dalam sebuah galaksi terdiri milyaran tatasurya yang berpusat pada 1 bintang, dan dalam satu tatasurya terdiri dari beberapa planet. Seperti pada tempat kita tinggal di planet bumi yang terletak pada tatasurya dengan pusat bintang matahari.

Penciptaan alam semesta diawali dari Tuhan sendiri yang berbaring di lautan penyebab yang mungkin bisa dikiaskan sebagai pondasi seluruh alam semesta sebagai Karanodakasayi Visnu yang maha besar. Dari setiap pori-pori Karanodakasayi Visnu muncullah Garbhodakasayi Visnu yang memunculkan sebuah alam semesta. Dari sini bisakah kita membayangkan betapa besarnya Tuhan? Yang hanya dari 1 pori-porinya memunculkan 1 alam semesta yang terdiri dari jutaan galaksi.

Secara Ilmiah munculnya alam semesta dari pori-pori Tuhan dalam wujud Karanodakasayi Visnu ini diistilahkan dengan White Hole (Lubang Putih). Fenomena White hole sempat diamati oleh beberapa ilmuan yang merupakan area tempat terjadinya perubahan dari Energi menjadi Materi. Kenyataan ini dibenarkan dalam sloka Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari ” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Perubahan dari energi menjadi materi diistilahkan dengan White Hole, bagaimana dengan perubahan dari materi menjadi energi? Dalam konsep penciptaan Veda, perubahan ini dapat diistilahkan dengan Black Hole yang juga sangat sesuai dengan penemuan para ilmuan saat ini. Jadi Veda memberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana alam semesta diciptakan bukan dengan konsep big bang seperti yang diakui oleh Al-Qur’an, melainkan dengan teori yang baru mulai dilirik oleh para ilmuawan setelah ditemukannya fenomena Black Hole, yaitu teori Black Hole – White Hole.

Lebih lanjut Veda menjelaskan bahwa setelah munculnya Garbhadakasayi Visnu dari pusar beliau muncul bentuk yang menyerupai bunga padma. Di atas bunga padma inilah Tuhan menciptakan mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma diberi wewenang sebagai arsitek yang menciptakan susunan galaksi besarta isinya dalam satu alam semesta yang dikuasainya. Kenapa penulis menjelaskan Dewa Brahma menjadi arsitek dalam alam semesta yang dikuasainya? Hal ini karena Menurut Veda alam semesta ada jutaan dan tidak terhitung banyaknya yang muncul dari pori-pori Karanodakasayi Visnu dan setiap alam semesta memiliki dewa Brahma yang berbeda-beda. Ada Dewa Brahma yang berkepada 4 seperti yang dijelaskan menguasai alam semesta tempat bumi ini berada. Dan ada juga Brahma yang lain yang memiliki atribut yang berbeda, berkepala 8, 16, 32 dan sebagainya.

Yang jelas dapat disimpulkan bahwa Brahma adalah merupakan kedudukan dalam sebuah alam semesta dan di seluruh jagad material terdapat sangat banyak dewa Brahma, bukan saja dewa Brahma yang telah biasa dibicarakan oleh umat Hindu saat ini. Hal pertama yang diciptakan Brahma dalah susunan benda antariksa, planet, bintang dan sejenisnya mulai dari tingkatan paling halus sampai dengan yang paling kasar. Dalam penciptaan ini dijelaskan bahwa Tuhan menjelma sebagai Ksirodakasayi Visnu dan masuk kedalam setiap atom dan partikel terkecil sekalipun. Inilah kemahahebatan Tuhan sebagai maha ada dan menguasai setiap unsur dalam ciptaannya. Setalah itu Dewa Brahma menciptakan berbagai jenis kehidupan mulai dari para dewa, elien, mahluk halus, binatang, tumbuhan sampai pada virus yang berjumlah 8.400.000 jenis kehidupan. Veda juga memberikan penjelasan siapa manusia pertama. Tidak seperti halnya kitab suci Abrahamik yang menyebutkan hanya ada 1 manusia pertama yaitu adam, Tapi Veda menjelaskan ada 14 manusia pertama yang muncul dalam jaman yang berbeda dalam 1 siklus penciptaan. Manusia pertama dalam Veda diciptakan oleh dewa Brahma dan disebut dengan Manu dan sampai saat ini sudah mencapai generasi manu ke-7.

Jika anda mengaku sebagai manusia tetapi menolak otoritas manu sebagai manusia pertama, maka anda adalah orang bodoh. Manusia berasal dari bahasa sansekerta, dari urat kata manu dan sia, sia diartikan sebagai keturunan. Karena itu seluruh keturunan manu disebut sebagai manusia.

Veda menolak akan adanya teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin, Tetapi Veda mengemukakan akan adanya Devolusi, atau terjadinya degradasi atau penurunan kualitas kehidupan, mulai dari semakin kacaunya susunan tatasurya, kepunahan mahluk hidup, penurunan kualitas kehidupan manusia seiring dengan berjalannya waktu. Terus bagaimana Veda dapat menjelaskan tentang terjadinya berbagai ras manusia? Dalam kitab suci agama abrahamik yang dengan tegas mengakui hanya adam adalah manusia pertama dan berusaha menjelaskan bahwa mutasi dan evolusi genetislah yang menghasilkan ras berbeda. Hawa sebagai pasangan adam tercipta dari tulang rusuk adam. Dengan demikian secara ilmiah, gen yang dimiliki adam seharusnya sama dengan gen yang dimiliki hawa. Jika kedua pasangan ini kawin dan menghasilkan keturunan, maka sudah barang tentu keturunan yang dihasilkannya seharusnya memiliki gen yang sama. Hanya saja kenapa saat ini ada banyak ras dengan genetik yang sangat jauh berbeda? Agamawan dari kalangan Abrahamik menjelaskan bahwa perubahan itu akibat adanya evolusi karena mutasi. Hanya saja Ilmu pengetahuan modern saat ini menjelaskan bahwasanya mutasi tidak akan pernah menghasilkan keturunan yang bersifat menguntungkan bagi mahluk hidup bersangkutan. Sebagai contoh semangka yang dimutasi dapat menghasilkan semangka tanpa biji dimana selanjutnya semangka bersangkutan tidak akan mampu berkembangbiak secara normal.

Demikian juga dengan sapi yang diradiasi untuk menghasilkan sapi yang memiliki ukuran besar juga tidak sanggup bertahan hidup dan berkembang biak secara normal. Bukti lain yang membantah pernyataan agamawan abrahamik yaitu jika orang asia hidup ditengah-tengan orang bule di eropa dalam waktu yang sangat lama dengan kebudayaan eropa tetapi mereka tidak pernah melakukan perkawinan silang dengan orang bule, apakah postur tubuh mereka berubah menjadi orang bule atau campurannya? Tentu tidak bukan. orang dengan ras asia tetap sama dimanapun mereka berada.

Nah, jika teori adam-hawa ini salah, bagaimana otoritas Veda menjelaskannya? Menurut Veda yang menjelaskan bahwa sampai saat ini di bumi ini telah muncul 7 manu dengan gambang menyatakan bahwa ras-ras yang berbeda yang ada saat ini berasal dari ke-7 manu yang memiliki genetik yang berbeda dan perkawinan silang diantara mereka. Jadi keturunan dari manu saat ini adalah kombinasi dari 7 dan dapat merupakan kombinasi dari keturunanya lagi. Tentunya secara Ilmiah teori ini dapat diterima dengan baik dan jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan konsep adam-hawa. Jadi yakinkah bahwa leluhur anda adalah adam dan hawa?

Seringkali pula kita mendengar bahwa kiamat sudah dekat. Benarkah kiamat sudah dekat? Veda menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi pada saat Brahma yang merupakan arsitek alam semesta meninggal dunia pada usia beliau yang ke-100 tahun dalam satuan waktu alam Jana loka. Sebelum ke penjelasan selanjutnya, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu bahwa waktu di bumi, berbeda dengan waktu di planet lain ataupun di dimensi lain sesuai dengan hukum relativitas ruang dan waktu. jika kita dapat mengerti bahwa 1 hari di sorga akan sama dengan 6 bulan di bumi, 1 hari di dimensi alam jin akan sama dengan 3 hari di dimensi kita di bumi. Demikian juga dengan alam / dimesi ruang yang lainnya. 100 tahun dewa brahma jika dikonversikan dalam satuan waktu kita akan sama dengan 311,04 triliun tahun manusia. Umur alam semesta yang sepanjang ini dapat dibagi-bagi lagi seperti dalam gambar berikut.



Oleh : #ngarayana
Referensi : http://narayanasmrti.com/vedic-science-43/konsep-penciptaan-alam-semesta-menurut-veda/

Mengapa Jarang Membaca Weda ?

Mengapa Jarang Membaca Weda ? - Kalau kitab suci umat Hindu adalah Weda, mengapa umat terlihat jarang membaca Weda ?. Kitab suci umat Hindu bukan hanya dalam satu buku Weda yang terdiri dari empat itu, Catur Weda itu Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda, tetapi ada lagi kitab-kitab lainnya yang disebut Upanisad yang banyaknya sekitar 108 kitab, Bhagawad Gita dengan 700 sloka. Ada pula Itihasa, yaitu Ramayana dan Mahabharata, setelah itu ada 18 Purana, kisah-kisah tentang mahluk suci. Lalu ada Darsana, tentang enam sistem filsafat. Karena banyaknya kitab-kitab itu, maka lebih tepat disebut Pustaka Suci. Dan itu tidak hanya mengenai tattva, susila dan upacara, tetapi juga mengenai ilmu pengetahuan, seperti astronomi, matematika, ilmu kedokteran, geografi dan banyak lagi.


Bagaimana umat Hindu mempelajari itu semua ? Untuk memahami mantra-mantra Veda, maharsi Valmiki dalam karya agungnya, Ramayana menyatakan bahwa karya sastra yang bersumber pada sejarah itu dimaksudkan untuk memudahkan seseorang memahami kitab suci Veda. Demikian pula maharsi Vyasa dalam Vayu Purana menyatakan :

Itihasa Puranabhyam vedam samupabrmhayet
bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharisyati

Vayu Purana I.20
"Hendaknya Veda dijelaskan melalui sejarah (Itihasa) dan Purana (Sejarah dan mitologi kuna) Veda merasa takut kalau seseorang yang bodoh membacanya. Veda berpikir bahwa di (orang yang) akan memukulku"

Berdasarkan petikan diatas, maka untuk memahami Veda diperlukan pemahaman berjenjang dan komprehensif, maksudnya bahwa setiap orang yang ingin memahaminya sebaiknya memiliki referensi yang luas dari pengetahuan yang sederhana sampai yang lebih dalam dan luas.

Inti-inti dari semua ajaran dirumuskan dalam kalimat singkat yang mudah dipahami, seperti misalnya Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir baik, berbicara baik dan berbuat baik. Tri Hita Karana, hubungan segi tiga yang menyebabkan kebahagiaan, seperti hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan alam serta pengetahuan tentang Tat Tvam Asi atau pula Vasudaiva Kutumbakam.

Di dalam agama Hindu yang dipentingkan bukan menghafal ayat-ayat atau mantra-mantra tetapi praktik di dalam kehidupan. Menurut guru kita Swami Vivekananda esensi agama itu adalah "berbuat baik, menjadi baik " (Do Good, Be Good).

Demikianlah Artikel/Tulisan ini semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Satyam Eva Jayate

Sumber bacaan buku Hindu Menjawab oleh Ngakan Made Madrasuta dan buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib

Referensi : http://blog.semangathindu.com/2013/10/mengapa-jarang-membaca-weda.html

Kedudukan Seorang Wanita Di Hindu

Kedudukan Seorang Wanita Di Hindu - Beberapa saat yang lalu saat saya berkunjung ke Gramedia Book Store, secara sangat kebetulan saya mengambil sebuah buku yang bertemakan “Wanita” dalam sebuah rak buku teologi. Secara sangat kebetulan saya membuka sebuah halaman secara acak dan saya temukan sebuah ulasan yang sangat menarik, tetapi juga membuat saya geleng-geleng kepala sebagai seorang pengikut Veda.

Buku tersebut adalah sebuah buku karangan seorang “oknum” yang secara umum “mempropagandakan” bahwa dalam ajaran mereka kedudukan seorang wanita adalah sangat terhormat. Sampai disini saya menghormati sang penulis yang mengagungkan agamanya dan saya memandang itu sebagai sesuatu yang wajar. Namun sampai pada sebuah penjelasan yang saya maksud, saya kehilangan simpati terhadap sang penulis. Dalam banyak contoh-contoh-nya sang penulis mendeskreditkan ajaran agama lain mengenai kedudukan wanita.

Hal inilah yang menyebabkan saya tergerak untuk memberikan penjelasan dan merupakan jawaban dari tuduhan buku yang sangat tidak fair tersebut. Dengan menggunakan “azas praduga tidak bersalah” saya akan mencoba mengutip beberapa bukti yang bertolak belakang dengan penjelasan buku tersebut. Namun sekali lagi saya tegaskan, artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan seseorang atau kelompok tertentu, melainkan hanya menjawab ketidak-fair-an buku yang saya temukan tersebut.

Sang penulis menjelaskan bahwa  di dalam ajaran Hindu, kedudukan wanita sangat lemah dan tidak berdaya, hanya Agamanya-lah yang menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita. Dia memberikan sebuah contoh tentang dewi Sita yang setelah diculik oleh Rahvana dan dibebaskan kembali oleh suaminya, Rama beserta bala tentara keranya akhirnya diperlakukan secara tidak adil, dibuang ke hutan sampai akhir hidupnya. Sang penulis juga menjelaskan bahwa di Hindu wanita diperlakukan secara tidak adil dengan mengharuskannya menjalankan sati, yaitu dibakar hidup-hidup setelah suaminya meninggal.

Apa benar Hindu mengajarkan seperti itu?

Saya pribadi tersenyum mendengar penjelasan sang penulis yang “bodoh” ini. Dia mendeskreditkan ajaran agama lain tanpa pernah membaca ajaran Hindu yang sebenarnya. Apalagi dengan memberikan deskripsi kejadian tanpa mengutip sumber yang valid.

Kisah Dewi Sita dan Rama dapat kita temukan dalam kitab Ramayana yang ditulis oleh Maha Rsi Valmiki yang menurut kronologi waktu dari Veda sendiri berlangsung 18,1 juta tahun sebelum masehi. Kitab Ramayana adalah bagian dari Itihasa, yaitu suatu epos/sejarah kepahlawanan yang memang benar-benar pernah terjadi.

Mengenai bukti sejarah Ramayana sudah dibuktikan dengan ditemukannya reruntuhan kerajaan Ayodya dan juga jembatan yang dibangun tentara kera untuk menghubungkan India dengan Alenka (Srilanka) sebagaimana dapat diamati melalui pencitraan satelit NASA.



Kisah dewi sita menjalani pengasingan di Hutan dan akhirnya masuk kembali ke dalam perut bumi diceritakan dalam bagian (kanda) terakhir dari Ramayana. Jika kita pahami secara mendetail literatur Veda, penjelmaan Rama, Laksmana dan Sita adalah Avatara Tuhan yang muncul kedunia dengan tujuan membinasahkan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh sebagaimana disebutkan dalam

Bhagavad Gita 4.8


“ pariträëäya sädhünäà  vinäçäya ca duñkåtäm  dharma-saàsthäpanärthäya sambhavämi yuge yuge”

Artinya :
Pada dasarnya Tuhan tidak harus muncul dan hadir kedunia sebagai Rama untuk membinasahkan Rahvana, tetapi Beliau melakukan “lila”, sandiwara rohani yang dapat dijadikan falsafah hidup bagi seluruh umat manusia.

Singkat cerita, setelah Rahvana binasah di tangan Avatara Rama, Sita-pun terselamatkan dan dengan menggunakan pesawat “Vimanas” diterbangkan menuju Ayodya, kerajaan Sri Rama. Rama sebagai anak tertua dari tiga bersaudara akhirnya diangkat sebagai raja Ayodya untuk menggantikan Ayahnya yang sudah wafat dan otomatis Sita menjadi ratu-nya.

Setelah beberapa waktu berlalu, di kalangan rakyat Ayodya beredar desas-desus yang menyangsikan kesucian Dewi Sita yang sempat diculik dalam jangka waktu yang lama oleh Rahvana. Sampai pada akhirnya berita tidak sedap ini sampai kepada Rama, suami dewi Sita. Sudah barang tentu Rama sebagai Avatara Tuhan yang mengetahui segala sesuatu tidak meragukan kesucian dewi Sita, namun untuk meredam desas-desus rakyatnya akhirnya Rama menyiapkan suatu upacara di mana Sita harus meloncat kedalam kobaran api. Jika Sita tidak suci, maka api akan membakar habis tubuh dewi Sita, tetapi jika Sita suci, maka api tidak akan sanggup membakarnya. Dalam upacara ini Sita sama sekali tidak terbakar dan hal ini membuktikan bahwa Sita benar-benar tidak ternoda.

Namun para rakyat yang dipenuhi oleh Avidya (kebodohan) masih saja menyangsikan prihal kesucian Dewi Sita, sampai pada akhirnya Rama sebagai seorang raja yang menjalankan Dharma Kesatria yang harus mengayomi seluruh rakyatnya dan menjaga ketertiban masyarakat memutuskan untuk mengasingkan dewi Sita ke hutan ketempat pertapaan Rsi Valmiki. Pada saat pengasingan ini dewi Sita sedang mengandung dan akhirnya melahirkan anak kembar di pertapan Rsi Valmiki. Oleh Maha Rsi Valmiki kedua anak ini dinamakan Kusa dan Lawa. Rsi Valmiki yang memiliki tugas menuliskan kisah Rama dan Sita kedalam kitab Ramayana ini mengajarkan kedua anak Rama dan Sita ini melantunkan syair-syair tentang kisah hidup orang tua mereka sendiri.

Sampai pada akhirnya Kusa dan Lawa mendapat kesempatan membawakan kisah ini di depan Rama, ayat mereka di istana Ayodya. Menyadari bahwa Kusa dan Lawa adalah anak-Nya, Rama langsung memeluk mereka. Singkat cerita akhirnya Rama memanggil dewi Sita kembali ke istana. Namun sebagai akhir “ lila ” Sri Rama, Dewi Sita menolak untuk kembali dan memilih kembali ke dalam dekapan ibu pertiwi, Dewi Sita kembali ke dalam perut bumi, dan Rama-pun akhirnya kembali ke Vaikuntaloka (Alam Rohani).

Jika kita membaca sepenggal kisah ini, mungkin kita akan beranggapan bahwa Sita diperlakukan secara tidak adil sebagai seorang wanita. Namun pada dasarnya ini adalah “ lila ”, sebuah sandiwara rohani yang tanpa dewi Sita pergi ke hutan ke pertapaan Rsi Valmiki, maka Ramayana mungkin tidak akan pernah ada dan diceritakan sampai saat ini. Demikian juga dari segi Dharma seorang Raja. Seorang yang menjabat sebagai pemimpin/raja, maka dia harus dapat melayani semua orang yang dipimpinnya, dia bukan lagi milik istrinya, anak-anak dan keluarganya, tetapi milik semua rakyatnya dan dia harus mengutamakan kepentingan rakyat banyak diantara kepentingan pribadi dan keluarga. Karena itulah pada saat itu tindakan Rama dan ketulusan Sita untuk mengasingkan diri kehutan demi kepentingan rakyat sudah sangat tepat.

Mengenai tindakan dimana seorang istri menceburkan diri kedalam perabuan suaminya atau “sati” memang dikenal oleh peradaban masyarakat Hindu. Tetapi tidak ada satupun sloka Veda yang mewajibkan seorang istri untuk ikut membakar diri bersama mayat suaminya. Mereka yang melakukan upacara sati adalah mereka yang memang atas dorongan dirinya sendiri yang memiliki cinta kasih dan pengabdian yang tulus pada suaminya. Dasar dari seorang istri untuk melakukan sati mungkin adalah Manu Smrti 2.67
“ Patise-va gurau vasah |  melayani suami dengan  tulus  di rumah sama dengan tinggal di Gurukula” dan lebih lanjut dikatakan, “ Suddha  nari  pativrata | istri yang selalu setia kepada suami dalam kesenangan  maupun kesusahan adalah wanita saleh ” (CN.8.18). Seorang istri yang setia seperti ini menurut Veda sudah pasti akan diangkat kedalam kedudukan yang lebih tinggi, mereka sduah pasti akan mencapai Sorga. Namun demikian Veda berkali-kali mengingatkan bahwa tujuan akhir kita bukan Svarga/Sorga, tetapi Moksha, mencapai alam rohani yang sat-cit-ananda. Dan kit juga bukan badan ini, kita adalah Atman/jiva. Kita mengambil wujud sebagai namusia, sebagai laki-laki dan wanita hanya karena badan material ini, namun Atman/jiva kita tetaplah sama. Sama sekali tidak terdapat perbedaan antara atman/jiva seorang lelaki dan seorang perempuan. Tidak terdapat perbedaan atman/jiva seorang manusia dengan atman/jiva hewan dan tumbuhan. Hali ni juga ditegaskan dalam

Bhagavad Gita 6.29
Sarva bhuta-stham atmanam sarva bhutani catmani
Sarvatra sama darsanah
Artinya : 
Yogi sejati melihat sang Atma ada dalam badan jasmani segala makhluk dan juga melihat segala makhluk dalam Atma. Sungguh, ia yang telah insyaf diri melihat Atma yang sama dimana-mana.

Kesadaran yang mengatakan kita adalah manusia, yang mengatakan bahwa kita adalah lelaki dan perempuan adalah kesadaran palsu dari interaksi sang Jiva dengan maya.

Bhagavad Gita 7.27
Iccha dvesa samutthena dvandva mohena bharata sarge yanti parantapa
Artinya :
O keturunan Bharata, dibuai oleh keinginan menikmati secara terpisah dari-Ku dan keengganan melayani-Ku, wahai Penakluk musuh, maka  ia  (sang jiva) jatuh ke alam material.

Oleh karena na " bhajante ", tidak mau mengabdi kepada Sri Krishna dan " avajananti ", tidak senang kepada Beliau, maka " sthanad brastah patanti adhah " , jatuhlah sang jiva ke alam material (Bhagavata Purana 11.5.3).

Jadi sloka-sloka ini sudah sangat jelas bahwasanya Veda tidak membedakan antara wanita dan pria, bahkan Veda juga tidak membedakan seorang manusia dengan mahluk yang lain, melainkan semuanya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat “Bhakti” sang Atman/Jiva kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bukti yang sangat kuat mengenai kedudukan wanita yang sejejar dengan pria dapat dilihat dari penerimaan pewahyuan Veda itu sendiri. Wahyu kitab suci Veda diterima oleh 332 orang suci. 300 orang diantaranya adalah seorang Pria, yaitu antara lain Rsi Atri, Bhrugu, Vasishtha, Vishwamitra, Agastya, Yagyavalkya, Kanva, Bharadwaja, Gautama, Kashyap, Angirasa dan lain-lain. Dan 32 yang lainnya adalah seorang Brahmavadini, atau seorang Rsi wanita, yaitu antara lain Maitreyi, Gargi, Lopamudra dan lain-lain.
Melihat dari proses penerimaan Veda sendiri yang dapat diterima oleh seorang wanita, menunjukkan bahwa kedudukan wanita dalam hindu adalah sejajar dengan pria. Hal seperti ini mungkin tidak akan pernah anda temukan dalam sejarah agama yang lain, terutama agama-agama Abrahamik.

Demikianlah Tulisan/Artikel yang kami kutip dari sebuah website yang telah kami cantumkan alamat sumbernya. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan serta wawasan kita.

Referensi : #ngarayana | http://narayanasmrti.com/hindu-menjawab/kedudukan-seorang-wanita-hindu-rendah/

Siapakah Yang Berhak Merayakan Kemenangan Dharma (Hari Raya Galungan) ?

Siapakah Yang Berhak Merayakan Kemenangan Dharma (Hari Raya Galungan) ? - Artikel - Hindu - Tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai Moksartham ( Kebahagiaan Rohani ) dan Jagadhita ( Kebahagiaan Jasmani ). Untuk mencapai kebahagiaan jasmani dilaksanakan melalui Tri Purusa Artha ( Dharma, Artha dan Kama ), sedangkan untuk mencapai kebahagiaan rohani dilaksanakan melalui Catur Marga ( Bhakti, Karma, Jnana dan Raja Marga ). Kedua tujuan ini dilaksanakan melalui 3 kerangka agama Hindu ( Filsafat, Upacara dan Susila ).


Yang dibahas disini sesuai dengan Hari Raya Galungan adalah tujuan rohani dengan memakai 3 kerangka agama Hindu sebagai berikut :

1. FILSAFAT

Kita bereinkarnasi ke dunia ini, itu artinya masih ada perbuatan kita yang adharma, bisa dibuktikan dengan kita bereinkarnasi memakai badan kasar yang terbuat dari Panca Mahabhuta. Maha Bebhutaan ( Bhutaning Bhuta ) yang berjumlah 5 disebut Panca Mahabhuta, yang kemudian kita sebut ADHARMA.
Selama kita masih memakai badan kasar, maka kita tidak akan bisa menghindar dari dualitas kehidupan dan salah satu dualitas itu adalah suka dan duhka, artinya betapapun dalam kehidupan ini kita menemukan suka, sudah pasti suatu saat kita akan menemukan duhka. Hindu mengetahui ini, sehingga Hindu ingin menghindari dualitas ( suka duhka ) agar bisa menemukan suka sujati / suka tan pawali duhka yang lebih dikenal dengan sebutan MOKSA.

2. UPACARA

Kemudian bagaimana caranya agar kita bisa mencapai Moksa itu ? Sudah tentu kita harus menghilangkan adharma atau unsur badan kasar pada diri kita dalam artian pada kehidupan berikutnya harapan kita tidak lagi bereinkarnasi ke dunia ini memakai badan kasar, inilah yang disebut Moksa. Bagaimana upa-CARA-nya untuk mencapai Moksa ? Hindu memperkenalkan 4 cara yang disebut Catur Marga yaitu Bhakti, Karma, Jnana dan Raja Marga. Dari 4 upa-CARA ini kita ambil Bhakti Marga karena memang upa-CARA ini yang paling banyak dilakukan oleh umat. Bagaimana cara melakukan Bhakti Marga ? Banyak caranya misalnya mendirikan pelinggih, sembahyang dan salah satunya adalah melalui : Peringatan Hari Raya. Salah satu hari raya itu adalah GALUNGAN

Kembali ke pokok permasalahan yaitu bagaimana caranya kita agar mencapai Moksa sesuai dengan tujuan agama ? Pada prinsipnya adalah menghilangkan adharma ( unsur badan kasar/ bhutaning bhuta/ mahabhuta ) agar muncul dharma ( dewaning dewa/ Mahadewa ). Untuk ini dibuatlah filsafat melalui hari raya dan salah satu hari raya itu adalah GALUNGAN

Kemudian apa makna yang tersirat di dalam perayaan Hari Raya Galungan ?
Hari Raya Galungan adalah suatu hari untuk memperingati/ memberi ingat kepada kita agar dalam menapak kehidupan sehari – hari kita senantiasa ingat untuk selalu memenangkan dharma dengan nampah/ membunuh sifat kebinatangan yang berwujud Rajasika (ayam) dan Tamasika (babi) dengan harapan tumbuhnya sifat Satwika dalam kehidupan sehari – hari dengan tujuan akhir agar tercapai MOKSA. Ini adalah suatu janji yang diucapkan di hadapan Tuhan. Mengapa kita berjanji kepada Tuhan ? Ya sesuai dengan tujuan Moksartham itu sendiri. Ini yang harus kita selalu ingat setiap saat agar kita selalu ingat tujuan kita bukan hanya untuk mencapai jagadhita saja, juga untuk mencapai moksartham. Untuk tujuan jagadhita hampir setiap hari kita ingat serta untuk tujuan moksartham pun mestinya kita senantiasa ingat, kita mencari artha sesuai dengan tujuan jagadhita untuk tujuan kama dan dharma berdasarkan DHARMA.
Inilah adalah janji dalam diri ( Yama Brata ) yang kemudian untuk dilaksanakan ( Niyama Brata ). Janji ini diucapkan di hadapan Tuhan melalui peringatan Upacara Hari Raya Galungan dengan memakai sarana bebanten.

Kemudian siapakah yang berhak merayakan Hari Raya Galungan sebagai pengingat agar setiap saat kita senantiasa ingat untuk memenangkan / melaksanakan Dharma setiap saat ?
Jawabannya :

Sebenarnya semua makhluk hidup, dalam hal ini akan dijawab dengan segenap umat Hindu sebagai konsekwensi tujuan Hindu untuk mencapai Moksartham.

3.SUSILA

Melaksanakan hari raya adalah merupakan suatu Yadnya ( Dewa Yadnya ) yang harus dilaksanakan berdasarkan susila yaitu Satwika Yadnya

Oleh : Bapak Putu Suekantara

Mengapa Orang Hindu Menghormati Sapi ?

Mengapa Orang Hindu Menghormati Sapi ? - Hindu | Melihat banyaknya arca-arca sapi di tempat suci Hindu baik yang ditemukan di situs purbakala maupun di tempat-tempat suci yang masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan mengundang sebuah anggapan salah kaprah terhadap Hindu. Orang sebagian besar orang, Hindu identik dengan penyembah sapi. Apa lagi pada kenyataannya sebagian besar umat Hindu di dunia berpantang untuk mengkonsumsi daging sapi. Benarkah Hindu memuja Sapi?


Berdasarkan peradaban Veda, sapi memang merupakan binatang yang sangat di sakralkan. Diuraikan bahwa sapi merupakan lambang dari ibu pertiwi yang memberikan kesejahtrean kepada semua makhluk hidup di bumi ini. Karena itulah para umat manusia diajarkan untuk tidak menyemblih dan memakan daging sapi. Selain mempunyai manfaat di dalam kehidupan rohani, sapi juga memelihara kita di dalam kehidupan material kita seperti misalnya dengan memberikan susu sapi dan berbagai produk susu. Selain susu dan berbagai produk, sapi juga memberikan berbagai jenis bahan obat-obatan seperti misalnya kencing sapi dan tahi sapi yang bahkan ilmuwan modern sekalipun menerima bahwa air kencing sapi dan kotoran sapi mengandung zat anti septik yang bisa digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit. 

Di India, didalam sistem pengobatan Ayur Veda, terdapat teknik yang di sebut pengobatan panca gavya. Panca gavya adalah lima jenis produk yang di hasilkan oleh sapi yaitu; susu, yogurt, ghee, kencing sapi dan kotoran sapi. Panca gavya ini diangap sebagai bahan bahan yang menyucikan. Bahkan di dalam yajna dan memandikan pratima di berbagai kuil, bahan bahan ini sangat diperlukan. Tanpa panca gavya, seseorang tidak bisa menginstalasi pratima di dalam kuil.  Selain bahan bahan yang bisa di komsumsi dari segi material, sapi juga membantu para petani di dalam berbagai hal. Sapi jantan di gunakan untuk membajak dan kotoran sapi digunakan untuk pupuk.

Sri Krsna sendiri yang muncul ke dunia material ini memberikan contoh kepada kita semua untuk menghormati sapi. Beliau bahkan lebih memementingkan sapi dari semua makhluk hidup lainya termasuk para brahmana. Seprti diuraikan di dalam sastra “namo brahmaëya-deväya go-brähmaëa-hitäya ca jagad-dhitäya kåñëäya govindäya namo namaù”.

Di vrndavan, tradisi menghormati sapi-sapi masih berlangsung sampai sekarang. Di beberpa tempat di daerah pedalaman di Vraja bumi, ketika mereka memasak roti (capati), roti pertama akan diberikan kepada sapi karena mereka mengangap bahwa krsna hanya akan menerima persembahan kalau mereka memuaskan sapi-sapi dan para brahmana. kemudian roti kedua di berikan kepada orang suci yan kebetulan lewat di daerah desa tersebut dan roti lainnya, di persembahkan kepada Sri Krsna.

Disini hendaknya kita membedakan istilah menghormati dan memuja. Orang Hindu memperlakukan sapi secara istimewa adalah untuk menghormati sapi, bukan memuja sapi. Hindu hanya memuja satu Tuhan, “eko narayanan na dwityo”sti kascit” tapi menghormati seluruh ciptaan Tuhan, terutama yang disebut ibu, para dewa yang mengatur alam material dan semua umat manusia. Dalam tradisi Hindu dikenal beberapa entitas yang dapat disebut sebagai ibu yang harus kita hormati, yaitu :

1. Ibu yang melahirkan kita, yaitu ibu kandung kita sendiri.
2. Ibu yang menyusui kita walaupun tidak mengandung kita.
3. Ibu yang memelihara dan mengasuh kita walaupun tidak melahirkan dan menyusui kita.
4. Sapi yang telah memberikan kita susu, sumber panca gavya dalam pengobatan Ayur Vedic dan juga yang tenaganya telah kita gunakan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kita.
5. Ibu pertiwi, yaitu bumi dan alam ini yang telah memberikan penghidupan pada kita dan harus kita jaga kelestariannya.

Sekarang kita gunakan hati nurani kita, apakah kita akan tega membunuh dan memakan daging sapi yang sudah kita minum susunya, yang sudah membantu pekerjaan-pekerjaan fisik kita dalam menarik pedati dan juga membajak sawah?

Disaat manusia dapat dengan mudahnya membunuh, memotong kepala ayam dan sapi tanpa perasaan, maka disaat itulah mereka akan memotong kepala manusia dan bahkan ibu kandungnya sendiri seperti memotong kepala seekor ayam.

Saya masih teringat di masyarakat kita di kalangan hindu di Bali. Ketika saya masih kecil, orang tua saya sering memperingatkan bahwa kalau kamu makan daging sapi, kamu tidak boleh datang ke pura tanpa mandi terlebih dahulu. Peringatan ini di berikan oleh orang tua saya dan sudah merupakan peringatan turun temurun dari nenek moyang kami. Namu sayangnya beberapa orang berangapan bahwa karena kalau kita makan daging sapi, maka kita tidak bisa masuk ke pura, itu berarti sapi adalah binatang haram. Ternyata setelah kita amati dan mempelajari kitab suci veda, ternyata sapi merupakan binatang yang suci yang dihormati oleh para dewa sekalipun. Bukanlah karena sapi merupakan binatang haram, maka kalau kita makan daging sapi kita tidak bisa ke pura tetapi karena sapi merupakan binatang yang sangat suci, sehinga kalau kita memakan daging sapi, maka kita diangap orang yang sangat berdosa, degan demikian tidak bisa masuk ke pura. Karena itu, setelah makan daging sapi, kita harus menyucikan diri, paling tidak mandi terlebih dahulu sebelum memasuki tempat suci. Ini bukan berarti bahwa kita bisa berlangsung memakan daging sapi dan kemudian mandi dan menyucikan diri. Tidak! Itu bukanlah proses prayascita yang sejati. Proses prayascita yang sejati adalah menyucikan diri dari perbuatan berdosa, merenungkan kegiatan berdosa tersebut dan berusaha untuk menghindari kegiatan tersebut. 

Kita hendaknya tidak melakukan prayascita seperti gajah mandi. Sri Pariksit maharaj di dalam Srimad Bhagavatam menguraikan sebagai berikut :

kvacin nivartate ‘bhadrät
kvacic carati tat punaù
präyaçcittam atho ‘pärthaà
manye kuïjara-çaucavat

Kadang kadang, orang sadar akan kegiatan berdosa namun melakukan kegitan berdosa lagi. Dengan demikian saya mengangap proces melakukan kegiatan berdosa yang berulang ulang dan penyucian berulang ulang sebagai hal yang tidak berguna. Ini sama halnya dengan gajah mandi ( kunjara-sauca-vat), karena gajah membersihkan dirinya dengan mandi namun begitu selesai mandi dan kembali ke daratan, sang gajah akan menghamburkan lumpur pada kepala dan badannya.
( Srimad Bhagavatam, 6.1.10).

Jadi ajaran dari orang tua kita, tidak boleh ke pura setelah makan daging sapi, hendaknya diambil serius dan menghindari daging sapi selama lamanya dan berusaha mengerti keagungan sapi. Diuraikan juga bahwa orang yang membunuh sapi, atau makan daging sapi, akan menderita di planet neraka selama ratusan tahun untuk membayar satu dari bulu sapi yang mereka makan. kalau seseorang makan daging sapi yang memliki seratus ribu bulu, maka orang tersebut mesti menderita di neraka selama 100.000 dikali 100 tahun. Sudah tentunya kita menghindari penyemblihan sapi dan makan daging sapi bukan karena takut untuk masuk neraka tapi karena rasa kasih sayang kita kepada sapi yang telah berkenan memberikan kita berbagai jenis makanan seperti yang telah diuraikan di atas.

Semoga Tulisan/Artikel yang kami kutip dari salah satu web ini bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Apabila teman-teman ingin mendapatkan  ataupun membaca selengkapnya boleh menuju link sumber yang kami cantumkan.


Referensi :  #ngarayana | http://narayanasmrti.com/hindu-menjawab/kenapa-orang-hindu-menghormati-sapi/

KADERISASI Sebagai Sebuah Keharusan




Alam reformasi di Negara kita telah berumur enam tahun lebih, namun ada fakta dilapangan yang sungguh tidak patut ditiru dari beberapa pemimpin kita adalah sikap yang tertutup terhadap segala kritik, saran dan koreksi. Memandang sempit ajakan untuk duduk dalam forum terbuka adalah sikap arogan yang tidak pada tempatnya.

Sikap yang sangat kontradiktif dengan adab demokrasi itu sendiri padahal Negara Indonesia katanya mengaku menjunjung tinggi adab demokrasi dalam segala bidang kehidupan bermasyarakat. Sikap yang menunjukkan pemahaman sempit terhadap demokrasi dengan memandang hakikat demokrasi hanya ada pada perangkat/lembaga yang menjalankannya. Ini adalah sikap dan pikiran yang perlu mendapat perhatian dan koreksi secara mendasar yaitu sikap pengingkaran terhadap prinsip yang dijunjungnya.

Pengabdian pada masyarakat adalah tugas setiap orang yang sadar akan pentingnya peran, posisi dan potensi dirinya bagi masyarakat. Tak perlu ada lisensi khusus yang diberikan oleh lembaga pemerintahan atau harus mendapat pengakuan dari pemerintah. Siapapun yang memiliki inisiatif untuk berpartisipasi dapat menjalankan fungsinya di tengah masyarakat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ini adalah prinsip berpartisipasi yang bertanggung jawab..

Mahasiswa yang berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah tak perlu izin dari MPR/DPR ataupun Presiden RI dalam menjalankan aksinya. Buruh pabrik yang menentang kebijakan perusahaan tak perlu surat izin dari pihak perusahaan saat berdemonstrasi. Mahasiswa yang Kuliah Kerja Nyata (KKN ) ke daerah pedalaman tak perlu izin dari MPR/DPR atau Presiden RI untuk mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di sana. Jika kekuasaan menjadi alasan untuk membungkam aspirasi dan partisipasi politik setiap individu maupun organisasi, maka ini pertanda bahwa penguasa sudah membunuh demokrasi yang lahir lewat cita cita nasionalismenya. Sadarkah mereka yang melihat maupun yang menjalankannya? Bagaimana kita bisa dibutakan oleh kekuasaan yang kita buat sendiri? Apakah kita tidak belajar sedikitpun dari teman kita sendiri yang sering kita tuduh komunis?

Hal diatas merupakan salah satu pernyataan untuk mewujudkan  kegelisahan yang menjangkiti kita semua terhadap kondisi dunia kemahasiswaan kita utamanya dalam berorganisasi. Kegelisahan yang melihat adanya tanda-tanda kemunduran akal pikiran dalam masyarakat kita, terutama mahasiswa. Secara tak sadar dan perlahan-lahan namun pasti, kita telah dibutakan oleh pemahaman kita yang sempit, kita telah dibutakan oleh kebodohan yang lahir dari sikap tidak peduli terhadap orang lain apalagi komunitas kita sendiri. Kita telah kehilangan pemimpin-pemimpin yang mampu membuka cakrawala berpikir dan mengangkat komunitas kita dari kemunduran dan telah digantikan oleh kebutaan dan sempitnya cakrawala pikiran. Jika dunia kemahasiswaan kita hanya melahirkan manusia yang berpikir seperti mesin ketimbang orang yang kritis dan mampu melihat masa depan, apa kata dunia?

Kaderisasi tidak lagi hanya untuk mengurusi pergantian kepemimpinan/kepengurusan organisasi. Kaderisasi bukan hanya untuk menurunkan tradisi kemahasiswaan tanpa ada orientasi untuk masyarakat. Kaderisasi bukan dibuat hanya untuk ajang seremonial penerimaan anggota baru. Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi rutinitas tahunan yang penuh kebohongan/kesemuan demi lembaran kertas pertangungjawaban di akhir kepengurusan. Kaderisasi harus membuat perubahan! Kaderisasi harus membuka cakrawala berpikir! Kaderisasi harus menghadapi konflik yang membesarkannya. Kaderisasi harus mampu menjawab tantangan masa depan. Kaderisasi harus mampu menanamkan pentingnya prinsip dalam beraktifitas. Kaderisasi harus mengangkat kesadaran. Jika kaderisasi dibuat untuk membuat kita lupa (bahkan buta) terhadap diri kita dan masyarakat, membuat mabuk kepayang dan ketagihan seremonial/formalitas, maka artinya kaderisasi telah menggali kuburannya sendiri.


Gede Kirtana Yoga
Ketua Departemen Kaderisasi PP KMHDI Periode 2003 - 2006

Pencarian Hindu Terhadap Tuhan




APAKAH SEORANG HARUS PERGI KE HUTAN UNTUK MENCARI TUHAN ?
Jawab :
Tidak ada satupun kitab-kitab suci Hindu menyatakan bahwa seorang harus melarikan diri dari kewajiban dan milik duniawinya (Swadharma) untuk mencapai pengejawantahan Tuhan (God-realization). Sebaliknya, Bagawad Gita menganjurkan kita melakukan tugas kita. Setelah percakapan besar Bagawad Gita, Krishna berkata kepada Arjuna, "Mam Anusmara Yudhyacha" (Mengingat Aku, bertempurlah dalam peperangan ini), yang berarti "ingat kepada Tuhan, laksanakan tugas kewajibanmu." Jadi tidak dimanapun dikatakan bahwa orang harus lari ke hutan untuk mencari Tuhan. Memang, agama Hindu mengatakan bahwa perobahan mentalitas dari material ke spiritual sangat lambat, seperti ulat rakus yang makan tiga atau empat kali berat badannya dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu. Demikianlah perubahan dilakukan secara perlahan tanpa harus membuat frustrasi. Agama Hindu mendukung pernyataan, "anda dapat memiliki benda-benda, tapi jangan dimiliki oleh benda-benda itu." Raja Janaka adalah satu contoh yang sempurna. Pada satu sisi ia adalah raja materialistik dari zamannya, dan pada sisi lain, dia adalah salah seorang Yogi besar India yang pernah diketahui. Pahami, Yogi yang berkelahi untuk cawatnya dalam musim dingin yang hebat di Himalaya tidak lebih baik dari seorang bisnisman yang cerdik/licik. Keduanya dikuasai oleh keserakahan dan kemarahan. Jadi, perobahan kesadaran lebih penting dari perobahan penampilan luar atau perobahan gaya hidup.

AYAH, APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA TUHAN TIDAK DATANG KEPADA KITA KECUALI KALAU KITA MEROBAH KESADARAN KITA ?
Jawab :
Itulah tepatnya yang kukatakan kepadamu lagi. Bahkan Swami Wiwekananda mendapat masalah ketika gurunya Sri Ramakrishna Paramahamsa membuat ia melihat Tuhan untuk pertama kalinya, karena kesadarannya pada waktu itu belum lagi pada puncak yang tertinggi. Wiwekananda, waktu itu bernama Narendra, mengganggu/merecoki setiap orang dengan pertanyaannya yang menyelidik, "Pernahkah anda melihat Tuhan?" Sri Ramakrishna Pamahamsa sendiri menjawab Narendra, "Nak, aku melihat Dia seperti aku melihat kamu," dan menyentuh dahi Narendara. Narendra, yang telah menyusahkan begitu banyak Yogi dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tajam mengenai Tuhan kemudian mengeluarkan jeritan seperti embikan domba. Konon kekuatan itu begitu tak tertahankan untuk dipikul oleh seorang putra besar India, dan dia memohon, "Tinggalkan aku, Tuan, aku mempunyai ayah, ibu dan yang lain-lain di rumah." (Lihat The Life of Swami Wiwekananda oleh muridnya di Barat maupun di Timur). Tidak ada jalan yang mudah. Tuhan demikian dekat dengan kita namun Dia tidak dapat datang kepada kita. Kita menjauhkan Dia dari kita. Adalah fakta bahwa tanpa upaya individu, tanpa merobah kesadaran, Tuhan tidak dapat datang kepada siapapun, sekalipun Tuhan juga dekat kepada setiap orang dari kita.

AYAH, APAKAH PENGETAHUAN AKAN KITAB SUCI SYARAT MUTLAK UNTUK PENGEJAWATAHAN TUHAN ? 
Jawab :
Tidak! Sama sekali tidak. Siapapun yang secara tulus mencari kebenaran mutlak pada akhirnya akan mengejawantahkan kebenaran mutlak itu, bahkan sekalipun dia sama sekali tidak tahu Weda atau Upanishad. Semua kitab-kitab suci agama-agama hanyalah alat bantu dalam pencarian kebenaran dan mereka bukanlah satu "keharusan" dalam pencarian kebenaran terakhir.

Jadi apakah seseorang sangat fasih atau hafal dengan kitab-kitab suci atau tidak, bila dia tulus dalam keinginannya untuk mengetahui kebenaran, dia akhirnya akan mengejawantahkan kebenaran itu. Tuhan muncul di depan setiap orang yang menyerahkan kehendak pribadinya kepada kehendak Tuhan. Dalam banyak sloka Bagawad Gita, Krishna mengajarkan cara sangat mudah dengan mana orang dapat mencapai Tuhan. Dalam sloka 12:6-7, Krishna berkata , "Mereka yang menyerahkan seluruh tindakannya kepada Ku dan menganggap Aku sebagai tujuan tertinggi dan menyembah Aku dengan bhakti segenap hati akan terselamatkan olehKu dari pengulangan lahir dan mati." Dalam sloka yang lain ia berkata, "hentikan semua perbuatan saleh atau tidak saleh dan datanglah kepadaKu; cari perlindungan padaKu. Maka Aku akan membebaskan kamu dari semua dosa; jangan bersedih" (Bagawad Gita 18:66)

Melalui seluruh baris-baris itu Tuhan meminta bhakti sepenuh hati dan tanpa ragu dari pemuja dan tidak ada sama sekali disebutkan mengenai mempelajari kitab-kitab suci. Tidak ada salahnya dengan mempelajari kitab suci, tapi adalah salah untuk merasa bahwa orang yang tidak tahu kitab-kitab suci tidak mempunyai kesempatan untuk mencapai moksha (keselamatan). Itulah sebabnya kenapa dalam agama Hindu, semua cara mencapai Tuhan sama pentingnya. Puisi atau lagu penuh perasaan dari seorang Bhakti Yogi, perbuatan tanpa mementingkan diri sendiri dari seorang Karma Yogi, praktek Pranayama dari seorang Raja Yogi dan kontemplasi atas kitab suci dari seorang Jnana Yogi semuanya diperlakukan dengan sikap yang sama dalam agama Hindu. Bhajan Meera, philsafat Advaita dan Yoga Sutra Patanjali mempunyai status yang sama dalam agama Hindu.

AYAH, APA YANG ANDA ATAU ORANG LAIN INGIN CAPAI DENGAN MEMPRAKTEKKAN AGAMA HINDU ?
Jawab :
Adalah mudah untuk mengatakan "keselamatan" (salvation), tapi itu adalah tujuan yang terakhir. Saat ini, kita mencoba untuk mencapai kedamaian dan harmoni dalam hidup. Dalam satu hal kita ingin mempunyai satu kehidupan yang bebas stres. Cara hidup Hindu membantu upaya itu. Mereka yang mengikuti agama Hindu umumnya tenang hatinya dan mereka mengekspresikan ketenangan itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak berteriak atau ngomel-ngomel ketika makan malam mereka tidak dilayani pada waktunya atau bila mereka terjebak dalam kemacetan jalan atau bila mereka baru saja kehilangan pekerjaan. Sekali waktu mereka juga marah, tapi keadaan pikiran itu hanya bersifat sementara. Seperti telah kukatakan padamu sebelumnya, adalah mudah sekali untuk mengikuti agama Hindu, karena agama Hindu percaya bahwa kebodohan adalah akar dari semua kejahatan dan pengetahuan yang benar adalah jawaban dari semua masalah. Pertama-tama, cobalah untuk memahami kebenaran itu, dan kemudian coba untuk mempraktekan dan mengejawantahkan kebenaran itu.

Jadi sebagian besar pemeluk agama Hindu tidak mencoba menjadi para Guru atau pertapa atau philsuf. Kita hanya berupaya untuk hidup tanpa tekanan, hidup yang damai. Bila keadaan itu bisa dicapai, maka seseorang sungguh-sungguh berhasil dengan studinya tentang agama Hindu. Cara-cara yang dijelaskan sangat sederhana, dan siapapun dapat mempraktekkannya. Aku harap aku telah membuatkan terang benderang kepadamu apa yang kumaksud.

Sumber : webmaster
Copyright © 2013 PD KMHDI Jawa Barat and Blogger Templates - Anime OST.
Selamat Datang di Blog Resmi Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Jawa Barat