Selamat Hari Raya Galundan dan Kuningan Mei 2014

Keluarga Besar PD KMHDI Jawa Barat mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh Umat Hindu. 21 dan 31 Mei 2014




" Satyam Eva Jayate Nanrtam "

(Mundaka Upanisad III.1.6)

Artinya :

Hanya kebenaranlah yang akan MENANG bukan Ketidakadilan.

KMHDI Desak Kapolri Tindak Perusak Tempat Ibadah

Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) mendesak Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Sutarman bersama Kapolda Jawa Tengah (Jateng), Kapolres Sragen, dan Kapolsek Miri untuk segera mengungkap dan menindak pelaku peristiwa pengrusakan tempat persembahyangan Agama Hindu (Pura) di Dukuh Giriloka RT 21, Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, pada 16 Januari 2014. “Kami mengecam dan mengutuk keras oknum yang melakukan tindakan anarkis berupa perusakan tempat persembahyangan Agama Hindu (Pura) tersebut. Oleh karena itu, KMHDI mendesak Kapolri segera menemukan pelaku dan memberikan hukuman sesuai undang-undang yang berlaku,” kata Presidium Pusat KMHDI I Made Bawayasa, kepada jurnas.com, Jumat (7/3).

KMHDI, lanjut Made, juga menuntut pemerintah daerah dan pusat untuk bisa berlaku adil terhadap masyarakat serta tidak berlaku diskriminasi, khususnya dalam kasus pengrusakan rumah ibadah. KMHDI juga menyeru agar memberi perlindungan keamanan pada tempat ibadah secara umum dan khususnya rumah ibadah yang dirusak, dalam hal ini Pura, di Dukuh Giriloka RT 21, Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Sragen.

Made menambahkan, KMHDI mendesak seluruh mendesak seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Sragen bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, untuk segera duduk bersama mencari solusi atas peristiwa tersebut sehingga tidak menimbulkan konflik bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (Sara). Hal ini penting agar tetap menjaga keharmonisan antarumat beragama di wilayah tersebut.

Selain itu, perlu melakukan pencegahan melalui penanganan isu bernuansa Sara secara cepat dan tepat. “Tindakan pencegahan sangat penting agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang,” tegas Made.

Made mengingatkan, bahwa pemerintah wajib memberikan hak kepada setiap masyarakat dalam melaksanakan aktifitas keagamaan. Sementara itu, Polri harus segera mengambil langkah cepat dengan menemukan dan menindak pelaku perusakan rumah ibadah tersebut. Sebab, bila hal itu dibiarkan akan menjadi bom waktu yang akan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, isu agama merupakan isu yang sensitif di Indonesia.

Made menambahkan, perlindungan dan pemberian rasa aman kepada setiap umat beragama merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab kepolisian. Sebab, rasa aman bagi setiap umat beragama di Indonesia akan menciptakan situasi yang kondusif dan meningkatkan keharmonisan antarumat beragama.

Made menjelaskan, bangsa Indonesia sejak kelahirannya dengan mengambil saripati kearifan luhur bangsa, telah menegaskan pengakuannya akan perbedaan-perbedaan sebagai sebuah keniscayaan baik suku, agama, ras, budaya dan perbedaan lainnya. Perbedaan itu sesungguhnya merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama agar menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

“Dengan menghormati ke-Bhinneka-an maka kita semakin memperkokoh bangsa Indonesia yang bermartabat,” ujarnya.

Oleh : Jurnas.com

http://www.jurnas.com/news/126869/KMHDI_Desak_Kapolri_Tindak_Perusak_Tempat_Ibadah_2014/1/Sosial_Budaya/Religi

Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang

Beberapa tahun terakhir, hari suci Tumpek Krulut yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Krulut. Tumpek Krulut lantas dianggap sebagai hari kasih sayang khas Bali. Benarkah Tumpek Krulut memang merupakan hari kasih sayang?


Cendekiawan Hindu, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag., membenarkan makna Tumpek Krulut memang berdekatan dengan perayaan cinta atau kasih sayang. “Makna perayaan Tumpek Krulut memang kasih sayang. Kata krulut berasal dari kata lulut yang artinya ‘senang’ atau ‘cinta’ yang bisa disejajarkan dengan makna sayang,” kata pensiunan dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini.

Menurut Wiana, makna Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang itu ditunjukkan dengan adanya sarana banten sekartaman yang dihaturkan saat Tumpek Krulut. Dalam pemahaman Wiana, banten sekartaman merupakan bentuk ungkapan rasa sayang kepada siapa saja yang memunculkan energi positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Di India, imbuh Wiana, juga ada tradisi peringatan hari kasih sayang. Di tanah kelahiran agama Hindu itu ada hari Raksa Banda atau pun Walmiki Jayanti. Raksa Banda merupakan hari untuk mengukuhkan ikatan cinta, kasih dan sayang di antara pasangan suami-istri, laki-laki dan perempuan. Pada hari Raksa Banda itu, sang lelaki diberikan tetebus berupa benang, pihak perempuan diberikan gelang. Tatkala hari Walmiki Jayanti, anak-anak hingga yang masih muda akan mempersembahkan bunga kepada orang yang lebih tua.

Namun, masyarakat Hindu Bali selama ini merayakan hari Tumpek Krulut sebagai hari piodalan di pelinggih penyarikan di banjar. Karena itu, acap kali ditemui, saat hari Tumpek Krulut dilaksanakan upacara piodalan di banjar-banjar.

Penulis buku-buku agama Hindu, Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Rahina Tumpek tidak secara jelas menyebutTumpek Krulut sebagai hari kasih sayang. Arwati hanya menyebutkan yadnya saat hari Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya sebagai sarana memunculkan rasa saling asih, asah dan asuh di antara sesama manusia melalui sarana seni tetabuhan, karya cipta Hyang Widhi yang membuat rasa tertarik, senang, terpesona dalam kehidupan.

Namun, Ketua Yayasan Dharma Acarya, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA., berpandangan Tumpek Krulut merupakan hari pemujaan taksu. Diakuinya, kata krulut diambil dari kata lulut. Akan tetapi, artinya bukanlah sayang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan, suami-istri atau pun sepasang kekasih. Rasa senang atau kasih itu berhubungan dengan kharisma utau wibawa yang menyebabkan orang lain tertarik.

Pemaknaan yang lebih segar terhadap suatu hari raya keagamaan memang suatu hal yang penting dilakukan sepanjang tidak jauh beranjak dari dasar sastra yang mendasari munculnya hari raya itu. Pemaknaan Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang dapat dianggap sebagai sebuah pemaknaan baru yang lebih segar sesuai dengan konteks zamannya.


Referensi : http://www.balisaja.com/2013/12/benarkah-tumpek-krulut-sebagai-hari.html

Utsawa Dharma Gita Tingkat Provinsi Jawa Barat Di Pura Giri Kusuma - Bogor

Pura Giri Kusuma – Kota Bogor

Kakanwil Kemenag Prov. Jawa Barat, H. Saeroji, MM, membuka secara resmi kegiatan Utsawa Dharma Gita Tingkat Jawa Barat atau yang identik dengan MTQ dalam Agama Islam, di Pura Giri Kusuma Kota Bogor, Minggu (12/01). Kegiatan ini diikuti oleh kontingen Utsawa Dharma Gita dari seluruh Kota dan Kabupaten se-jawa Barat.



Utsawa Dharma Gita merupakan ajang lomba baca kitab suci Weda, yang terdiri dari beberapa jenis lomba antara lain: Utsawa Sloka dan Palawakya, yaitu lomba membaca ayat-ayat suci Weda. Peserta dari tingkat Anak-anak, Remaja, dan Dewasa; Utsawa Dharma Wacana, yaitu lomba berpidato/ khotbah materi keagamaan Hindu. Tingkat anak-anak, remaja, dan dewasa. Utsawa dharmawacana ini terdiri dari dua jenis lomba, yaitu berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris; Utsawa Dharma Widya, yaitu lomba cerdas cermat materi agama dan keagamaan Hindu, tingkat SD, SMP, dan SMA; dan Utsawa menghafal sloka dan mantra terbanyak, katagori remaja dan dewasa.

Bagi umat Hindu, Weda merupakan petunjuk dan penuntun kehidupan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Weda hanya berisi prinsip-prinsip keimanan, vitamin juga sumber nilai-nilai universal, ilmu pengetahuan  hingga hakekat kehidupan, yang dikemas dengan bahasa yang indah, penuh dengan filosofi keteladanan, serta pesan moral yang luhur dan agung.


Weda memberi tuntunan kepada kita agar membangun kehidupan yang harmonis, saling bertoleransi, hidup dalam kedamaian dan hidup untuk saling mengenal, saling mengasihi, saling memberi maaf dan tidak membenci satu sama lain. Weda mengajarkan manusia untuk bekerjasama dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan dan permusuhan. Weda adalah sumber petunjuk dan pedoman hidup yang selalu relevan untuk mengharmoniskan kehidupan manusia di sepanjang jaman.

Pada kesempatan itu  Kakanwil menghimbau agar kegiatan Utsawa Dharma Gita tidak semata-mata menjadi ajang berlatih dan bertanding membaca Weda saja, tetapi juga untuk semakin dipahami substansi dari sloka-sloka suci Weda dengan benar dan tepat. Dengan makin memahami dan mendalami kandungan yang, terdapat di dalam Weda, mudah-mudahan kita mampu memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui nilai-nilai keagamaan, aturan serta kerukunan antar umat beragama, sejalan dengan nilai-nilai universal ajaran terkandung di dalam Weda.

Lebih lanjut Kakanwil berpesan kepada pemenang lomba agar tidak larut dalam kegembiraan, dan yang belum berhasil sebagai pemenang putus asa dalam kegagalan. “Yang berhasil menjadi juara, janganlah larut dalam kegembiraan sehingga lupa melanjutkan peningkatan diri, yang belum berhasil jangan jatuh didalam keputusasaan yang dapat mematikan semangat untuk berprestasi.”

Link Sumber : http://jabar2.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=175623
Copyright © 2013 PD KMHDI Jawa Barat and Blogger Templates - Anime OST.
Selamat Datang di Blog Resmi Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Jawa Barat